Wednesday, August 16, 2017

Arah Baru Literasi Indonesia
Ahmad Wiyono

United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco) tahun lalu merilis hasil survei gerakan literasi internasional. Yang mengejutkan adalah posisi Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang menjadi objek survei intensif tersebut. Tentu ini kenyataan memilukan. Posisi literasi bangsa kita kalah jauh dengan beberapa negara di dunia, bahkan dengan negara tetangga di Asia yang sama-sama tergolong negara berkembang. Apa penyebab kemesorotan tingkat literasi tersebut? Di antara sekian banyak penyebab terpuruknya budaya literasi di negeri ini, salah satunya adalah sifat malas yang masih menggurita dalam jiwa segenap bangsa kita.

Perhatikan misalnya saat anak-anak diarahkan untuk menggalakkan budaya baca. Mereka lebih tertarik menjadi pendengar ketimbang pembaca. Atau dalam pengalaman keseharian anak-anak di kota, mereka lebih suka mendengar atau menonton berita ketimbang membaca buku. Endy Bayuni, editor senior The Jakarta Post, menyebut fenomena itu sebagai penyakit literasi.

Penyakit literasi lebih condong pada tradisi lisan, yaitu mendengarkan orang berbicara. Ini setidaknya salah satu akar masalah yang menyebabkan budaya baca tidak terbentuk. Padahal tradisi lisan yang dimaksud tak lebih hanya pembelaan atas lemahnya budaya baca itu sendiri. Sebagai langkah strategis dalam mengimbangi capaian literasi global tersebut, perlu ada konsepsi baru di bidang literasi.

Konsep baru ini menjadi arah baru serta jawaban atas kegundahan literasi Tanah Air. Tentu gerakan literasi baru ini hadir bukan dalam rangka sebagai alibi atas kegundahan posisi literasi kita di kancah global, tapi lebih sebagai solusi untuk membangkitkan kembali energi literasi bagi segenap bangsa Indonesia bahwa mengatasi ketertinggalan capaian literasi internasional merupakan hal yang wajar.

Kendati demikian, mengembangkan yang sudah ada juga suatu keniscayaan. Salah satu buku yang peduli dengan persoalan rendahnya literasi bangsa adalah Suara dari Marjin, karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Buku ini boleh dibilang awal mula dari percakapan baru tentang dunia baca-tulis, literasi, interaksi pengetahuan dan cara berpikir.

Suara dari Marjin tampak sedang berupaya menggagas lahirnya literasi dengan konsep terbarukan. Di sini literasi tidak hanya dimaknai secara simbolik, lahir dengan data dan fakta kuantitas, tapi jauh dari itu literasi hadir sebagai roh untuk melihat, mengamati, dan membaca kondisi sebuah budaya dan jati diri bangsa.

Dengan pemahaman baru ini diharapkan gerakan literasi lahir secara alami dengan membangkitkan partisipasi para penggiat dari segala multiprofesi. New Literacy Studies (NLS) adalah salah satu kerangka kajian literasi baru yang lahir dari pergerakan anak jalanan dan buruh migran.

Gerakan literasi yang lahir dari kelompok anak jalanan dan buruh migran merupakan fajar baru untuk membangkitkan gairah literasi secara umum. Konsepsi dasar dari gerakan literasi baru ini adalah membangun kesadaran kolektif tentang budaya baca, tulis, dan mengkaji kondisi secara alamiah. Literasi tidak hanya diukur dari serangkaian kegiatan formal membaca dan menulis itu sendiri, tapi lebih pada kegiatan yang mengangkat harkat dan jati diri sebuah bangsa.

Literasi bukanlah sesuatu yang stagnan karena dia bergerak dan berubah. Misalnya, pengalaman literasi setiap orang bisa jadi berbeda dan tidak harus terkait pengalaman mengeja atau saat pertama kali seseorang mampu membaca.

Dalam buku ini, pengalaman literasi dimaknai sebagai rekam pengalaman seseorang dengan kegiatan membaca, menulis, dan mencerna pengetahuan, yang bermakna karena signifikan terhadap pilihan-pilihan hidupnya di kemudian hari (hal. 24). Buku ini hadir dengan tawaran konsep literasi lokal yang kontekstual, upaya untuk mengembalikan arah literasi pada khazanah budaya dan jati diri bangsa.

Selain itu, buku ini juga meramu konsep perlawanan terhadap hegemoni literasi yang terbentuk oleh praktik budaya kelompok masyarakat yang dominan, demi menumbuhkan praktik literasi yang lebih terarah sesuai konteks sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia. Salam literasi![]

Ahmad Wiyono, Pegiat Literasi dan Peneliti di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan

Artikel ini dimuat di Koran Sindo, Edisi Minggu, 13 Agustus 2017.

Monday, July 24, 2017

Foto: Anwar Holid.
Empat Buku Lama, Satu Buku Baru
Oleh: Anwar Holid

Dari menjelang bulan puasa hingga suasana lebaran 2017 M/1438 H aku menggulungi lima buku. Empat buku terbitan lama dan satu buku yang baru terbit pada Mei 2017. Jelas karena bulan itu suasananya religius, kebanyakan buku yang aku buka-buka itu bernuansa agama, meski sebenarnya enggak terlalu yakin apa yang sesungguhnya menggerakkan aku memilihnya. Mungkin karena ukurannya kecil dan cukup tipis, jadi mudah dibawa-bawa. Tapi di rumah, di bulan itu aku justru membuka-buka lagi buku tebal. Mungkin aku merasa ingin tenggelam dalam lautan persoalan yang sulit aku pahami, dan karena itu ingin menyelami lagi kedalamannya.

Inilah komentar permukaan atas ke-lima buku itu.

* Mudik: Kumpulan Cerpen (Beragam Penulis); Bentang Budaya, 1996
Buku ini aku baca ulang mulai menjelang bulan Ramadhan dengan harapan bisa mereviewnya sebelum libur Lebaran. Tapi meski sudah tamat baca dalam minggu pertama Ramadhan, aku gagal merevienya dengan pantas, malah beralih ke buku lain.

Antologi ini berisi 10 cerpen karya 8 maestro cerpen di era Orde Baru. Bisa dibilang buku ini merupakan cermin utuh budaya puasa, mudik, dan Lebaran kaum Muslim Indonesia, terutama yang terjadi Jawa. Cerpenis tersebut ialah Mohammad Diponegoro, Kuntowijoyo, Hamsad Rangkuti, Achmad Munif, Ahmad Tohari, Yudhistira ANM Massardi, dan Mustofa W. Hasyim. Hamsad Rangkuti menyumbang tiga cerpen; sedangkan Mustofa W. Hasyim menulis dua karya. Naskah-naskah dikumpulkan Aris Munandar, Muhammad Jihad, dan In'am Mustofa; sementara Mohamad Sobary memberi kata pengantar.

Kita bisa membayangkan seperti apa suasana maupun sisi emosionaal puasa, mudik, dan Lebaran, baik pemaknaan, kekhidmatan, maupun kehebohannya. Apa lagi masing-masing penulis memang punya kekuatan dan hal istimewa untuk diceritakan. Karya paling menarik yang patut mendapat perhatian lebih dalam buku ini bisa jadi ialah "Hati yang Damai Kembalilah Kepada Tuhan" (Kuntowijoyo) karena nuansanya lembut sekaligus penuh kasih dalam memperlakukan seseorang yang dianggap sebagai pendosa kelas berat. "Parcel" (Achmad Munif) sungguh terasa ironik serta menghadirkan kejutan mencengangkan, apa lagi kejadiannya persis berlangsung menjelang saat Lebaran. Ketiga cerpen Hamsad Rangkuti juga memberi sumbangan berharga. "Salam Lebaran" sangat menghibur dan langsung bisa membuat pembaca ketawa-ketawa kecil; sementara "Malam Takbir" dan "Reuni" merupakan dua cerpen serial yang bersahaja dengan nuansa melankolis dan mistis menjelang Lebaran.

* Wawasan Al-Quran (M. Quraish Shihab); Mizan, 2007
Buku paling tebal yang aku buka-buka selama Ramadhan. Dalam dunia musik, buku ini bisa diistilahkan sebagai 'double album' saking tebalnya, dan buatku sendiri buku ini seolah-olah merupakan sekuel sempurna dari "Membumikan" Al-Quran.

Jujur saja rasanya aku belum puas saja membaca meski pernah menamatkannya waktu dulu awal memilikinya. Aku selalu suka tiap kali membaca ulang, membuka-buka lagi, belum bosan membaca kembali dan menekuri puluhan topik yang tersedia. Ibarat album monumental, aku seperti ingin mengulang lagu-lagu di dalamnya sampai hapal.

Buku ini tidak perlu dibaca dari awal hinggal akhir. Cukup pilih bab, lantas simak sampai tamat. Quraish Shihab menyelami subjek demi subjek menggunakan bahasa yang simpel dan jernih, menyeluruh, mendalam, benar-benar membius, menenggelamkan pembaca, dan begitu muncul lagi ke permukaan ia segera sadar karena mendapat banyak pencerahan.

Sebagai buku babon, ia merupakan rujukan yang sangat kuat dan bermanfaat bagi setiap Muslim yang ingin tahu duduk perkara berbagai topik bahasan kehidupan, mulai dari persoalan iman, praktis kemasyarakatan (misalnya pakaian, mencari nafkah, politik, toleransi, pluralisme), hingga hal-hal abstrak (misalnya makhluk-makhluk gaib, surga-neraka, dan kiamat.)

* "Membumikan" Al-Quran (M. Quraish Shihab); Mizan, 1992
Salah satu buku utama kajian tafsir Al-Quran dan penerapannya, terutama dalam konteks keindonesiaan.

"Gagasan Al-Quran", bagian pertama buku ini menyelami tentang sejarah Al-Quran, prinsip ilmu tafsir, ditambah berbagai upaya mengembangkannya bagi kepentingan manusia. Perlu diingat, umat Islam meyakini bahwa Al-Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia, yaitu 'manusia yang berpikir.' Jadi pada dasarnya Al-Quran itu bacaan bagi semua orang, bisa dibaca siapa saja. Ia adalah kitab yang demokratis. Karena itu pesan kudus itu harus dipahami rahasia dan maksudnya. Di sinilah Quraish Shihab menjabarkan pelbagai "aturan main" cara memahami Al-Quran.

"Amalan Al-Quran", bagian kedua buku ini memaparkan penerapan tafsir untuk berbagai persoalan manusia, misalnya kenapa manusia beragama, sementara sebagian orang malah berusaha menghindari dan berniat menguburnya? Bagaimana mestinya kepribadian orang beragama, apa peran agama dalam masyarakat, apa makna berbagai macam ibadah bagi para pelakunya, termasuk kenapa agama punya lembaga propaganda?

* Khotbah di Atas Bukit (Kuntowijoyo): Bentang Pustaka, 2008
Barman tua mendapat hadiah istri muda dari anaknya, dengan maksud agar dia senang dan tenang menghabiskan masa pensiunnya di sebuah vila di perbukitan pinggir kota. Istrinya cantik, menggemaskan, suka cita melayani, dan menerima keadaan dirinya meski ia makin keropos dan tak berdaya didera waktu.


Baru setelah bertemu lelaki sebaya bernama Humam, hidup Barman pelan-pelan berubah. Humam menjalani masa tua dengan cara lain. Ia misterius, tampak menyatu dengan alam, banyak memandang hidup dengan cara berbeda dibanding Barman yang mapan. Namun justru karena itu Barman jadi terpikat dan mendapat wawasan yang tak pernah dia dapat selama hidupnya, misalnya tentang keabadian, kebahagiaan, atau kesejatian. Ia seperti menemukan dirinya seperti murid yang kosong dan siap diisi oleh seorang guru.

Novel ini berusaha menjelajahi perjalanan spiritual seseorang dari pandangan universal, bukan menisbatkan pada agama atau "iman" tertentu. Dengan begitu spiritual di sini terkesan menjadi samar, padahal tendensinya ia ingin menukik ke dalam sanubari seseorang. Saking samar, Kunto berani menghadirkan konflik yang tabu dalam wilayah spiritualitas, misalnya dalam kasus bunuh diri sebagai 'jalan' spiritual.

Kuntowijoyo menggali benang merah spiritualitas dari khazanah Islam, Kristen, Hindu, Buddha, lantas mencoba memilin dan ingin menyatakan bahwa di tingkat hakiki sifat spiritualitas itu sama, misalnya dalam soal menemukan maksud penciptaan manusia. Kelemahannya, novel ini terasa berat dan lambat dalam membeberkan ide-ide maupun perkembangan emosi tokoh-tokohnya.

* Suara dari Marjin (Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah); Penerbit Rosda, 2017
Buku ini membentangkan alternatif praktik dan gerakan yang bisa ditempuh oleh para pegiat literasi, terutama yang langsung terlibat atau terjadi di tengah masyarakat. Praktik seperti ini cukup berbeda dari kampanye gerakan literasi yang disodorkan dan dikejar pemerintah. Pemerintah terkesan menggalakkan literasi demi mengejar berbagai ketertinggalan, standardisi pembangunan, termasuk demi alasan statistik, namun kerap jatuh menjadi kegiatan yang artifisial, seremonial, kurang esensial, dan berujung menjadi rebutan proyek.

Sebaliknya, penulis Suara dari Marjin menyodorkan praktik literasi yang lebih membumi, mensyaratkan keterlibatan langsung dan intensitas para pelakunya, sehingga suasana maupun hasilnya mampu membangkitkan kesadaran, membentuk pribadi yang lebih kuat, dan lebih tepat sasaran. Lebih mengagumkan lagi, praktik literasi seperti itu bisa berlangsung secara mandiri, penuh idealisme, saling menguatkan, bahkan mungkin terjadi di luar radar otoritas pemerintah, dan karena itu kerap terabaikan. Buku ini akan membukakan pikiran bahwa literasi bukan lagi sekadar baca-tulis, melainkan cara seseorang mendayagunakan kapital budaya dan teks kultural untuk mampu memahami, memilah informasi, dan menggunakannya dalam kehidupan agar menjadi diri sendiri yang kuat.

Di tengah gelombang gerakan literasi yang terkesan monolitik dari pemerintah, buku ini memberi sumbangan segar dan mencerahkan. Ia kritis terhadap literasi, praktiknya mendalam, sekaligus menemukan darah dan dagingnya yang berisi.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Kontak: wartax@yahoo.com

Wednesday, July 19, 2017



Memetik Hasil Gerakan Literasi Banding
Oleh: Wawan Eko Yulianto

Judul: Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya
Cetakan: I/Mei 2017
Tebal: 234 hal.
Harga: Rp78.500,-

Buku yang menyegarkan dan menyadarkan. Biarkan kalimat itu mengawali postingan ini. Buku karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah ini pertama-tama akan membuat kita tidak “lupa diri” di tengah gegap-gempita gerakan literasi dewasa ini. Tentu “lupa diri” di sini harus diberi tanda kutip, karena sedikit pun saya tidak bermaksud bahwa gegap-gempita literasi dewasa ini adalah sesuatu yang melenakan secara negatif. Namun, tetap harus kita sadari bahwa bahkan segala yang bagus bisa membuat kita lupa diri kalau tidak kita kritisi dulu. Buku ini punya sikap yang demikian. Dia mengajak kita merayakan literasi, sambil tetap berpikir kritis lazimnya seorang literat.

Suara dari Marjin ini adalah olah ulang hasil penelitian terpisah untuk disertasi kedua penulisnya. Sofie Dewayani mengadaptasi disertasinya yang membahas literasi di kalangan “anak jalanan” di kawasan Pasundan, Bandung. Sedangkan Pratiwi Retnaningdyah mengadaptasi disertasinya mengenai praktik literasi di kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI), khususnya yang bekerja (atau pernah bekerja) di Hong Kong. Pada intinya buku ini menegaskan argumen yang banyak disuarakan para teoretikus Kajian Literasi Baru, yakni bahwa literasi bukan hanya seperti lazimnya yang kita pahami di sekolah–yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis sesuai metode dan praktik formal–tapi juga bisa terjadi melalui praktik informal, berlandaskan praktik keseharian, memiliki tujuan akhir yang lebih relevan dengan keseharian pelakunya.

Konsep-konsep Kajian Literasi Baru dalam buku ini bisa terlihat dalam sejumlah kata kunci yang disampaikan penulis pada bagian pendahuluan, analisis, dan kesimpulan buku ini. Konsep dari para pemikir seperti Paulo Freire, Pierre Bordieu, dan lain-lain tersebut antara lain adalah “literasi ideologis,” “habitus,” “kapital budaya,” dan “teks kultural.” Konsep-konsep ini pada hakikatnya menyatakan bahwa usaha penumbuhan literasi seyogyanya juga membantu membangunkan kesadaran akan diri si pelaku, dan hal ini bisa terlaksana dengan memahami lingkup sosial mereka, sehingga pada akhirnya praktik literasi akan mengentaskan mereka dari kemiskinan atau ketertindasan. Untuk melakukannya, praktik literasi ini mengidentifikasi hal-hal yang paling vital dalam memperbaiki harkat hidup si pelaku serta menggunakan elemen kultural yang ada dan dekat bagi para subjeknya.

***
Sofie dan Pratiwi menerangkan dengan gamblang teori-teori fundamental ini pada bagian awal buku, kemudian mengulangnya kembali untuk menjelaskan hasil temuan mereka dari studi etnografis di kalangan buruh migran di Hong Kong dan anak-anak yang bekerja di jalan. Dari penjelasan mereka kita mendapati bahwa di kedua komunitas marjinal tersebut terjadi praktik literasi yang menegaskan konsep-konsep yang saya singgung di atas.

Lebih konkret, di kalangan BMI, kita bisa mendapati upaya pendidikan literasi yang tidak begitu lazim--baik dilakukan secara mandiri maupun dengan bantuan tokoh dari luar--menggunakan sumber daya terdekatnya bertujuan meningkatkan harkat hidup mereka. Di antara kasus yang dibahas Pratiwi, kita bisa melihat kisah Rie rie, seorang BMI asal Jawa Timur yang mengajar dirinya sendiri blogging hingga akhirnya dia banyak membuahkan tulisan menggambarkan adanya kehidupan tidak lazim BMI di Hong Kong, mengubah citra BMI yang cenderung dipandang rendah karena pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Bahkan, buah dari praktik literasi ala Rie rie ini akhirnya juga dia tularkan kepada para BMI lain melalui pelatihan-pelatihan blogging dan kepenulisan. Masih ada beberapa kisah lain dari bagian ini, termasuk kita Mbak Ani, seorang mantan BMI yang menjadikan pekerjaan BMI sebagai langkah awal mendapatkan modal untuk mengejar pendidikan tinggi dan bahkan berkarya sebagai pembuat film yang cukup disegani.

Dari studi Sofie mengenai praktik literasi di kalangan anak-anak yang bekerja di perempatan Pasundan, kita bisa mendapati keberhasilan praktik literasi tidak lazim yang dilakukan oleh Bu Sri dan LSM Pelangi. Menurut pengamatan Sofie, Bu Sri yang mendirikan dan mengelola PAUD Bestari banyak menjalankan praktik yang selaras dengan konsep Literasi Baru, yang jelas terlihat sejak awal dengan tujuan mulianya untuk menghindarkan anak-anak balita dari ikut turun ke jalan bersama teman-teman dan–terutama–keluarga mereka sendiri (=inilah inti dari literasi ideologis). Dalam praktik pengajarannya pun Bu Sri menyadari potensi pemahaman “teks kultural” yang telah dimiliki anak-anak, kemudian mengoptimalkannya guna membuat anak-anak nyaman dalam belajar di PAUD yang serba diliputi keterbatasan. Demikian pula dengan praktik yang dilakukan oleh LSM Pelangi, upaya mereka dalam memberi pendampingan belajar bagi “anak-anak jalanan” membantu anak-anak mendapatkan ijazah Kejar Paket A, yang merupakan satu syarat minimal demi mendapat pengakuan untuk dapat bekerja di pabrik. Dalam usahanya ini, LSM Pelangi juga menyertakan kegiatan yang membantu “anak-anak jalanan” lebih memahami identitas mereka, misalnya melalui kegiatan penulisan kreatif tentang cita-cita mereka.

***
Dari pengamatan etnografis atas praktik literasi di lingkup marjinal, kita mendapati kesimpulan yang perlu dipertimbangkan di tengah demam literasi dewasa ini. Satu hal yang paling penting adalah bahwa gerakan literasi hendaknya tidak dipahami hanya sebagai suatu gerakan yang menumbuhkan minat baca, tulis, dan berpikir kritis yang dilakukan secara formal dengan pola seragam dari atas (dalam Kajian Literasi Baru dikenal sebagai literasi otonom). Namun, upaya literasi bisa berlangsung di mana saja, dengan cara berlainan, dan bertujuan riil meningkatkan harkat hidup pesertanya (literasi ideologis). Simpulan lainnya adalah upaya literasi di lingkup formal (sekolah) hendaknya mempertimbangkan elemen-elemen yang berhasil tersebut, misalnya dengan menyertakan elemen kultural dari kehidupan sehari-hari pelakunya dan dengan cara yang lebih ramah terhadap keberagaman minat peserta didik. Tentu saja berbagai upaya literasi informal itu juga sudah sejak awalnya mengintegrasikan elemen-elemen literasi otonom di dalamnya. Intinya, banyak hal dari upaya literasi ideologis (atau “literasi banding”) yang bisa dipetik bagi kita yang saat ini dilanda demam literasi dan mungkin tanpa sadar hanya menjalankan elemen-elemen literasi otonom atau formal.

Tentu masih ada simpulan-simpulan lain yang bisa dibicarakan mengenai buku tersebut. Namun, saya akhiri posting tentang buku Suara dari Marjin karya Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah sampai di sini.

Salam literasi 1438 H![]

Wawan Eko Yulianto, dosen, tinggal di Malang; blogger di http://timbalaning.wordpress.com